ads

Berita

Laporan Utama

Opini

Editorial

Artikel

Liputan Khusus

Perspektif tentang Wanita Sholehah


Oleh Tutut Indah Widyawati
Berdiskusi sejatinya adalah berbagi sebuah pemikiran, melengkapi sebuah pendapat, dan mendengarkan sebuah ide baru yang tak semua kepala akan sama. Sore ini, di hari Rabu, 31 Oktober 2012, yang biasanya diadakan sebuah diskusi tentang Media Online (DISDIAL), namun tergantikan oleh sebuah diskusi seru tentang wanita sholehah.
Diskusi berawal dari dua orang sahabat yang mengadakan diskusi dalam bisik di sebuah kelas sore yang mengkaji tentang mukjizat dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, Ulumul Qur’an. Diskusi berawal dari sebuah percapakan ringan yang sebenarnya tak terpikirkan sebelumnya.
N      : “aku ingin menjadi seorang wanita yang sholehah..”
T      : “hmmm.. ingin jadi wanita sholehah?? Cari dulu apa sih pengertian wanita sholehah itu!”
Naah, berdasarkan diskusi dalam bisik itulah berlanjut dengan diskusi-diskusi diantara keduanya yang juga melibatkan beberapa orang dalam membahasnya untuk mendefinsikan tentang apa itu sholehah.
“Sholehah itu bukan hanya pada apa yang nampak oleh mata, namun yang nampak oleh mata hati” - @tiwwiDy
Seorang wanita sholehah bukanlah terlihat dari apa yang ia kenakan, walaupun itu berjilbab, menutup aurat dengan pakaian yang syar’i belum lah bisa dibilang sebagai wanita yang sholehah. Yaa, sudah tentu apa yang nampak oleh mata lah yang menjadi awal penilaian seseorang, namun it’s not that simple!! Tutur kata yang baik, pandangan mata yang terjaga serta tingkah laku lah yang akan menjadi penilaian awal orang dalam mengenal seseorang itu baik atau buruk.
Wanita sholehah adalah wanita yang memiliki jiwa seorang ibu, seorang ibu akan selalu bertingkah laku baik, berkata yang baik karena seorang ibu adalah teladan bagi anak-anaknya yang tidak akan mungkin seorang ibu mencontohkan hal buruk kepada putra-putrinya.

Talk Less Do More

Salah satu organisasi yang ada di STAIN Kediri tanggal 29 oktober 2012 mengadakan refleksi sumpah pemuda yang bertempat di Gedung student center (sc) lantai 1. Begitu banyak antisipasi dari mahasiswa dan mahasiswi yang menggoreskan tanda tangannya di kain putih yang disediakan oleh panitia untuk menyadarkan pemuda pemudi yang ada di STAIN Kediri bahwa kita adalah agen of change dan memberikan pembangkit semangat bagi pemuda yang lupa akan sejarahnya.

Sumpah pemuda adalah salah satu kunci menyatukan pemuda pemudi Indonesia guna untuk menjunjung bangsa Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya.


LPM, DEDIKASI, PPMI
courtesy photo : Google

Namun tidak banyak mahasiswa yang ikut berpartisipasi menyerukan Sumpah Pemuda dan mengungkap realita pemuda yang terjadi di Indonesia sekarang sekitar 30 orang saja yang hadir dalam acara itu dari berapa ratus mahasiswa yang ada di STAIN Kediri namun acara berjalan dengan tertib dan tidak ada gangguan sedikitpun, banyak mahasiswa dan mahasiswi memberi penjelasan tentang apa yang terjadi kepada pemuda pemudi sekarang.


Dituturkan oleh Findra, apa yang telah kita berikan kepada bangsa? Pemuda membutuhkan pendidikan minat dan bakat, banyak pemuda yang kreatif dan terampil di negara kita ini tetapi bingung untuk mengembangkan bakat karena kita di jajah oleh sistem kepemerintahan yang ada, apakah ini yang disebut bangsa yang merdeka?
Pemuda harus mempertahankan kebudayaan yang ada di Indonesia itu sendiri, tetapi kurangnya rasa memiliki dalam jiwa pemuda yang membuat pemuda Indonesia banyak mengadopsi kebudayaan luar jelek sehingga kebudayaan yang ada dalam Negri ditinggalkan begitu saja bagaimana kita menjadi bangsa yang besar kalo kita tidak mampu melestarikan kebudayaan kita sendiri ujar wakil Presiden mahasiswa.


Sahabat Ulin memaparkan Pemuda sekarang telah dimanjakan oleh tehnologi dan fasilitas yang telah masuk ke Indonesia, di mana pemuda sekarang yang telah banyak menghabiskan waktunya untuk game online dan lain-lain yang tidak ada manfaatnya yang positif untuk bangsa kita bukannya memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi bangsa dan negara kita, meski kita tidak bisa menyumbangkan tenaga kita untuk bangsa dan Negara namun kita bisa menggunakan akal fikiran kita untuk membangun bangsa yang lebih baik dari sebelumnya


Ujar salah satu mahasiswa STAIN kediri kita sebagai pemuda Indonesia masih belum membuat bangsa kita maju hanya bisa belajar dan mencerdaskan anak bangsa namun pandangan dia tentang pemuda sekarang adalah kurangnya rasa nasionalisme yang tertanam dalam jiwa kita dan kurang bangga kalo kita adalah putra putri indonesia maka dari itu dengan mudahnya kebudayaan asing masuk dan dengan mudahnya kita menerima kebudayaan yang kurang baik itu. Percuma kita melaksanakan refleksi sumpah pemuda kalo tingkah laku kita masih belum cocok dengan harapan bangsa kita. Kalo pemuda yang akan mendatang sama halnya dengan pemuda yang sekarang maka lama kelamaan Indonesia akan menjadi terpuruk dari negara-negara lain. anw/I/TBI

Seminar International "Ethics and Global Challenges"


Kediri, 3 November 2012 sabtu kemarin, ratusan orang terlihat memenuhi gedung Auditarium lantai 4 STAIN Kediri. Dalam acara seminar Inernasional yang di adakan oleh Ushuludin Department. Seminar ini bertema Ethics and Global Challenges.


Aacara seminar tersebut mendatangkan 5 pembicara yaitu Prof. H. Fauzan Saleh, Ph.D (direktur Pasca Sarjana STAIN Kediri), Kevin R. Evans, Ph.D (TIRI, Australia), Dr. Purwadi (Universitas Negeri Yogyakarta), Dr. Leila Mona Ganiem (Konsultan Pengembangan Kepribadian), Mark R. Woodward, Ph.D (Arizona State University). Unikya yang bisa membedakan dari seminar-seminar sebelumnya, dikemas menjadi dua season. Yaitu season pertama yang dimulai pukul 10.00 –12.30, dan dilanjutkan dengan season kedua pada pukul 13.15 – 13.00. 


Ketua pelaksana agenda ini adalah dari Kaprodi Komunikasi Islam (Prilani,M.Si). Beliau menyebutkan dalam sambutannya bahwa acara ini menciduk antusias peserta yang tinggi bahkan membuat fenomena baru yaitu terdaftar peserta sebanyak 372 orang sebelum pelaksanaan diadakan. Padahal kursi yang disediakan hanya sekitar 320. “Adapun peserta keseluruhan yang mengikuti acara tersebut kurang lebih 400 orang dan terdiri dari beberapa golongan yang mencakup se-Karesdenan Kediri.” Ujarnya dalam sambutannya kemarin. Sehingga banyak dari mahasiswa maupun dosen yang mendengarkan seminar tersebut dari halaman gedung Ushuluddin melalui televisi live.


Momen yang besar ini dibuka dengan sambutan dari Ketua STAIN Kediri (Dr. H. Ahmad Subakir, M.Ag.) Yang paling meriah lagi, ketika Drs. H. Priyo Budi Santoso, M.Si. ( Wakil Ketua DPR RI ) sebagai Keynote Speaker dalam acara tersebut memberikan sambutan. “kita bangga terhadap pelaksanaan sistem demokrasi yang kita jalani, tetapi disisi lain banyak juga keluhan kita terhap pelaksanaan sistem tersebut “. terangnya dalam pidatonya yang disampaikan kemarin.

Season pertama dalam acara seminar dibuka dengan tiga pembicara yaitu Prof. Fauzan Saleh, Ph. D. Dengan tema prespektif Ethics dalam pandangan agama yang dalam penjelasannya mengungkapkan bahwa “ada dua sudut pandang yang dijadikan sebagai acuan dengan kaitanya terhadap ethics dan agama yaitu pandangan dari Al-Ghozali dan Maskawih”. Kemudian pembicara yang kedua adalah Dr. Purwadi (Universitas Negeri Yogyakarta) dengan bahasa kromo jawanya yang fashih menjelaskan tentang ethics yang kaitannya dengan budaya Indonesia. “kita sebagai warga negara Indonesia jangan malu untuk mengatakan bahwa kita adalah negara yang besar karena kita punya histori, ephigrapis dan chosmotoris”. Ujarnnya dengan penuh semangat dan menimbulkan tawa dari peserta. Adapun pembicara yang terakhir dalam season yang pertama yaitu Dr. Kevin R. Evans, Ph.D ( TIRI, Australia ) dengan tema Strengthening Ethics of Anti-corruption Behaviour. “korupsi yang selama ini kita kenal adalah bukan merupakan penyakit melainkan gejala, dan gejala tersebut imbas dari faktor piranti hukum yang lembek sehingga perlu adanya perbaikan dari sistem hukum kita perbaikan yang diharapkan juga bukan beratnya suatu hukuman melainkan kepastian hukum”. ucap narasumber yang berbadan besar dari Austrlia .

Dalam season kedua pun tak kalah menariknya. Dua narasumber yaitu Dr. Leila Mona Ganiem (Konsultan Pengembangan Kepribadian) yang menjelaskan tema bagaimana membangun karakter komunikatif dengan etika. Dia juga menjelaskan bahwa pergeseran nilai-nilai pribadi atupun tradisional dikarenakan karena terkikisnya nilai-nilai tersebut oleh budaya barat. “kita tidak bisa menutup diri dari maraknya teknologi yang sekarang menjadi kebutuhan, dan kaitanya dalam pengaruh buruk terhadap teknologi, kita hanya cukup tahu fungsi sebenarnya dari teknologi dan pengendalian kita terhadap penggunaanya”. tambahnya lagi. Dan sebagai narasumber yang terakhir dalam seminar tersebut yaitu Dr. Mark R. Woodward, Ph.D. yang menjelaskan tentang etika kapitalis dan globalisasi. “whit having Ethics, Justice, and Social we can step forward’’. jelasnya dalam logat amerika yang kental.

Menurut Ulin (I/TbI) “walaupun saya bukan anggota dari mahasiswa Ushuluddin, walaupun hanya duduk didepan gedung sambil melihat televisi live pun saya nyempatin meluangkan waktu disini. Karena seminar ini pastinya akan membawa perubahan dan menambah pengetahuan. Apalagi narasumbernya adalah pakar-pakar Internasional. Paling serunya juga kedatangan DPR RI”.

Harapan Tamy (III/TH) “harapan saya, Ushuluddin dengan adanya seminar-seminar seperti ini mudah-mudahan pengakreditasian dua 3 Prodi terselesaikan”.
uln/I/TBI

Top